KALIANDA
KALIANDA
Ivani
ayu marlina
Kalianda, 18 januari 2022
Panas dan tidak begitu sejuk beginilah gambaran tempat
ini, kalianda adalah tempat pergi dan kembali, sudah bermiliaran kenangan,
impian, derita dan keluh kesar sudah menjadi satu di tempat ini, tak banyak
memang yang mewah dan megah di tempat ini, tapi kalianda punya pesonanya
sendiri, pantai eksotisnya mampu membius mata seketika ku hampiri, deburan
ombak yang perlahan mendekat lalu menjauh, burung-burung kecil yang hinggap di
depan mata seolah menceritakan tempat ini, sedikit demi sedikit sudah banyak
perubahan, taman yang dulu selalu jadi tempat favorit telah berubah seiring
berjalannya waktu, jalanan di kalianda bak seperti lukisan the golden sea, sayangnya sang sepeda sudah tak
berbentuk. sawah-sawah di sepanjang jalan ini adalah saksi bisu betapa riangnya
sewaktu SD, ternyata berkelana juga
telah merubah logat lampung ku, tapi selalu di tempatkan di hati paling dalam,
karena kemanapun fisik pergi sesungguhnya rumah adalah tempat paling nyaman
untuk bersendu senang.
Kalianda adalah paling nyamannya tempat dengan
makanan pedasnya, cuacanya yang eksotis membuat dahaga tak berpikir panjang
meminum es kelapa muda, berdiri di atas mercusuar sangat jelas jajaran jemuran ikan
yang di keringkan, nelayan siang bolong menarik jala ke tepi pantai, ku saksikan
gubuk itu sudah mulai tak bisa di tempati, ternyata batu-batu besar yang dulu
sering ku injak setelah jogging pagi sudah tak lagi disitu, melemparkan
batu-batu kecil ke tengah laut adalah kegiatan terasik setelah pelarian cukup
panjang, sering ada ranting-ranting panjang yang ku gores-goreskan ke pasir,
pohon-pohon tinggi dekat SMA ternyata masih sejuk untuk di lewati, dan tetaplah
seperti itu ya!.
Terkadang berkeliling kalianda itu hanya membuka
memori dahulu saja, ada suatu tempat yang begitu berkesan sampai saat ini, dimana
hamparan pohon-pohon kecil di atas tebing dengan sejuknya suasana pagi telah
menambah luka di kaki karena terlalu riang melihat kalianda dari atas dataran
tinggi, suatu saat nanti akan ku ambil dirimu dengan resolusi tinggi kamera ku,
dan aku akan kembali dengan diriku yang lebih dewasa. Kan ku pastikan gambar mu
selalu ada di penyimpan ku, dan selamanya dirimu sangat menakjupkan di pagi
hari.
Sore hari pun kau begitu mempesona dengan senja mu
yang kuning, wah ternyata stadion itu masih berdiri dengan kokoh, setiap sore
beribu-ribu keringat jatuh dari badan ke lintasan merah itu, bagaimana aku bisa
lupa sedangkan kenangan ini memosil di kepala. Begitu juga dengan hal-hal lain
yang terus berlarian di kepala. seolah-olah sudah betah di tempurung kepala
ini.
Kalianda bukan hanya sekedar rumah tapi mungkin akan
menjadi tempat tidur teakhir ku setelah perjalanan yang panjang sekali, tak ada
satu momen pun yang ku lewatkan disini, meski nanti akan sering berpisah,
tolong camkan kau selalu terlukis indah di sanubari ku, tolong jemput aku
ketika aku sudah lelah.
Komentar
Posting Komentar