Problematika
Titik Terpuruk
Tangerang, 1 desember 2021.
Mungkin semua orang tidak
akan bisa tahu betapa rendahnya situasi yang dialaminya, bahkan bercerita pun
enggan faham situasinya seperti apa, tidak tertindas dengan kesengsaraan tapi
kesengsaraan yang menggiring diri untuk tertindas, faham sekali setiap manusia
punya porsi fightnya masing-masing, tapi setiap manusia juga punya porsi
breaknya masing-masing. Mata memandang ia tak berusaha, tapi tidak tahu
seberapa keras ia mencoba untuk bangkit mengejar ketertinggalannya, telinga
mendengar ia tidak berusaha, tapi tidak tahu bukan sekuat apa badannya menerima
cercaan itu. Terkadang sulit sekali menerima kenyataan yang tidak sesuai
ekspektasi kita. Halunya ingin mobil bmw nyatanya jangakan mobil motorpun tak
kau genggam, begitu kira-kira kata sang pemimpi.
Adakah yang salah dari diri? Kenapa begitu
banyak problematika diri yang terus menghampiri, “sudah ku bilang cobaan ya cobaan kau terima saja, sudah kehendak sang
maha kuasa”. Wait? bagaimana? Apakah akan terus menerima keterpurukan
dirimu? Apakah akan terus tertindas dengan kehinaan? Atau jadi buah bibir
society? Memang sudah garis tangan sang maha esa, tapi jika terus lemah ya akan
terus lemah.
Tau tidak yang lebih buruk dari masalahmu?
Dirimu sendiri.
Dirimu sendiri lah yang tidak mau merubah
ketertinggalan, keterpurukan mu, gagal kesatu kali itu artinya usahamu belum maksimal,
gagal kedua kali tuhan sedang melihat mu memaksimalkan usahamu, gagal ketiga
dan seterusnya, tuhan akan terus mencoba mu karena usahamu masih ada yang
kurang, serta doa mu yang masih renggang.
Sudah berapa lama kira-kira memendam
keterpurukan mu di dalam hati? Sudah cukup lama ya? Wajar saja, kamu tak pernah
mau mencari solusinya, dan kamu masih saja terjebak di lubang yang sama yakni
terperangkap dalam hal “ saya memang
buruk ya sudah terima saja” dirimu sangat faham sekali bagaimana fisikmu
berjuang sangat keras sampai-sampai sakit mu tak peduli. Sekarang coba untuk
bicara dua mata ke diri sendiri. “ maaf
ya belum bisa memenuhi ekspektasi, maaf ya belum bisa memiliki dia yang ingin
sekali ku gapai tapi apa daya, fisikku tak mampu menggapainya. maaf juga belum
bisa membahagiakan, nanti setelah semua derita ini selesai dan aku menemukan
solusinya. ku berjanji akan memaksimalkan ibadahku, memaksimalkan kerjaku,
memaksimalkan kebahagian keluargaku, tapi beri aku jeda agar ku dapat fokus
dengan deritaku ini”
Komentar
Posting Komentar