Tunakarya
Khawatir
Tangerang,
11 April 2021
Aroma teh telah
meruncing di ujung hidung, warnanya yang begitu pekat bisa menenangkan. tapi
tak suka terlalu manis. Kalau saja hidup sepekat teh ini, mungkin ku sudah sering
menaburkan banyak sabuk teh di air panasnya. Bisa apa aku selain berikhtiar
kepada sang maha kuasa serta berusaha sekuat tenaga. Aneh tiba-tiba hujan di
tengah-tengah panas, pertanda apa ini? Melihat sang Cahaya bersinar begitu
tajam saja sudah tenang, karena ada banyak pakaian manusia yang menunggu kering
oleh nya.Tapi kali ini sang air hujan tidak bisa di ajak kompromi, ia sedang
marah, ia sedang kesal sehingga menumpahkan tangisnya ke tanah, kaktus dan
beberapa tanaman ku mungkin akan gembira di beri nikmat luar biasa oleh ALLAH
SWT.
Ntah
kenapa hari ini begitu suram, tengkorak kepala ini begitu menggebu-gebu bak
seperti biang lala yang terus berputar, yap saya sudah dewasa ternyata, banyak
sekali kegelisahan yang terus berputar di otak, satu per satu hilang tapi satu
per satu lainnya masih mengendap, ini bukan tentang kotak pensil tingkat tiga
yang jadi rebutan anak SD, bukan juga tentang hafalan jurus tangan kosong di
seni tunggal. dan bukan juga tentang ujian geografi, Padahal ini tak seberapa,
justru ia di ciptakan agar bisa melewatinya.
Berselancar
di sosial media ketika menyandang status pengangguran adalah kegitan yang salah.
Nampak teman-teman berpakaian PNS, berseragam loreng, berpakaian rapih
kedinasan, bahkan adik kandung ku saja sibuk bekerja, sedangkan aku? mahasiswa
kelas regular c yang hidupnya bergantung dengan kerjaan, baik itu part-time
ataupun full-time.
Setiap hari
stiky-note yang tertempel di dinding kostan selalu ku baca “ akan ada pelangi
di balik awan mendung” tapi kadang juga
tak Nampak !, sepertinya aku kurang menikmati proses. selalu berambisi ingin
sukses, banyak sekali ekspektasi yang terpanjat dari ujung lidah, tapi lupa
realitanya, aku masih mahasiswa bukan pekerja yang sesungguhnya, bahkan di
tempat kerja saja tidak pernah bertahan lama.
Langkah ku
ternyata terlalu lambat, tidak bisa pakai sepatu, masih dengan kaki telanjang. Padahal
sudah 21 tahun, bukan umur anak-anak SMA lagi. Di umur ini ku saksikan gelap
yang begitu bahagia. Ku saksikan pohon tinggi jauh dari komplek perhutanan teriak
sangat keras. Terkadang pohon itu tumbuh segar, kadang juga layu, bahkan sempat
mati beberapa minggu lalu hidup lagi. Tapi pohon itu tak suka dekat dengan
pohon yang lainnya, ia khawatir akarnya yang begitu lebar bisa menyerap nutrisi
makanan tumbuhan yang lain, ia khawatir daunnya yang begitu lebat menghalangi sinar matahari menyinar tumbuhan
yang lain,
ia khawatir dahannya yang begitu sejuk akan di singgahi manusia, sendangkan
pohon yang lain tidak.
Tapi ku saksikan
pohon itu rusak di bagian dalam dan luarnya, burung pelatuk tak henti mematuknya, setiap
hari di lahapnya begitu rakus, sampai akhirnya pohon itu mati karena rasa
kekhawatirannya itu.
Dengan kondisi seperti ini, menjadi pengangguran tidak bisa disalahkan. Kondisinya memang berat bagi sebagian orang. Mungkin juga termasuk kamu. Teruslah berusaha, mungkin hujan kali ini lebih lama daripada biasanya. Percayalah pelangi akan datang. Mungkin besok, mungkin minggu depan, mungkin bulan depan, tidak ada yang tahu. Yang bisa kita lakukan adalah terus bergerak dan melangkah.
BalasHapusUmur 21 tahun memang adalah umur yang rawan membandingkan dengan kesuksesan orang-orang lain yang mungkin seumuran dengan kamu. Titik mulai setiap orang berbeda-beda, ada yang orang tuanya kaya raya, ada yang orang tuanya biasa saja, yang pasti kita tidak bisa tahu support sistem setiap orang bagaimana. Setiap orang itu unik, termasuk kamu dan aku. Bahkan jika dikatakan sama pun kalau diteliti lebih dalam tidak lah benar-benar sama.
Pohon itu mungkin tumbuh ditempat yang salah. Kalau kita melihat hutan, banyak sekali pohon tumbuh berdampingan, tetapi saat manusia datang dan invansi, mulai lah ekosistem berubah.
Buruh pelatuk tidak membunuh pohon, dia justru membantu pohon dengan membersihkan semut, larva, dan hama-hama lainnya yang ada dipohon tersebut. Memang pohon itu akan sedikit terluka, tetapi tidak sampai mati, dalam jangka panjang akan makin sehat.
AKHIR KATA:
Terus bergerak terus semangat. Kebosanan adalah tanda bahwa kamu tidak terlalu suka dengan bidang yang kamu geluti sekarang. IYA, saya setuju kadang ekonomi yang menghimpit akan membuat kita harus mengambil semua peluang yang ada bahkan yang kita tidak suka, tetapi jangan lupa kita masih punya sisa waktu untuk membangun apa yang kita suka.
Selagi bekerja dipekerjaan yang membosankan, gunakan waktu luangmu sebisa mungkin membangun impianmu. Ini tidak mudah, karena kalau mudah semua orang pasti akan melakukannya. Oleh karena itu, hanya beberapa orang saja yang bisa.
thanks
BalasHapus