Mandiri
Dua Tahun
By : ivani ayu marlina
Sorak-sorai dan hentakan alunan musik senam ibu-ibu kompleks, tlah menendang saya dari kasur pagi ini, saya lupa ada gumpalan sampah di belakang, ada kaktus dan beberapa bunga lain yang harus saya siram, melihat cucian baju yang menggunung membuat rasa malas ini semakin menjadi-jadi, leptop dan beberapa buku masih berserakan di lantai, turut menambah keributan dengan suara piring tetangga samping yang pecah, kucing ras lapar yang suka singgah ke kostan saya, whiskas selalu tergantung untuk kucing yang satu ini dan beberapa kucing jalan lainnya, itu sudah hal biasa.
Tak luput dari itu suasana bulan oktober yang mendung ini, setiap minggu akan ada berjuta-juta tetesan air hujan dari langit, semakin geram ketika suara besar datang, tutup telinga pasang earphone, tapi kenapa menutup telinga? Biarkan saja, biarkan telinga mu mendengar kekuasan tuhan.
Tanah terkikis, sungai ciliwung meluap mengakibatkan banjir di sekitar jabodetabek.
Semakin rindu rasanya dengan lampung, tak ada air laut disini.
Tak ada disini kenangan semanis di lampung.
Tapi saya masih belum selesai, saya harus lompat, saya harus lari dari titik A ke titik Z. dan saya masih di M.
Kadang berlari saja tak cukup, maka dari itu saya butuh sayap untuk menggapai yang jauh, saya penasaran, ingin melihat seberapa jauh sayap saya berkibar, seberapa banyak wajah baru yang saya kenal, semenjak saya pindah ke tempat rantauan ini, suasana kehidupan saya berubah 180 derajat dari waktu SMA, turut berpartisipasi kawan-kawan kampus yang kritis, dan bijak dalam bergaul, yang secara tidak langsung merubah saya menjadi bijak dalam bergaul.
gaya modern kaula muda khas jabodetabek memang tak bisa di pungkiri, dengan celana levis, sepatu convers, baju h&m. semakin menambah kepercayadirian, tentu, bergaya itu sesuai dengan isi dompet masing- masing, tak perlu bergaya bak seperti model, tapi, hasil pinjam uang sana-sini, bergayalah dengan sebisanya.
Satu tahun yang lalu, Contras dengan gaya freedom ala anak muda khas jabodetabek, membuat asumsi saya tentang kaula muda disini sangat bebas, merokok, minum-minuman keras sampai pagi di club. Berhubungan intim padahal bukan pasangan suami istri, walaupun itu hanya sebagian saja.
Tetapi asumsi itu saya tangkis, tak semua kaula muda disini seperti itu, masih banyak yang berhati baik, berakhlakul karimah, bertutur kata yang sopan, beragama yang faham, toleransi yang kuat.
Jalanan di kota ini sangat nyaman, pohon-pohon rindang di tepi jalan mempersejuk pengendara, banyak lampu merah disini, tiap-tiap tepi jalan adalah bangunan modern, sarana dan prasarana kota ini sangat lengkap, sore hari saya bisa baca buku di taman, joging dengan track baru di pinggiran kota dengan jarsey arsenal pink, menambah kenyaman saya disini.
Hari senin adalah sibuknya kota ini, lalulalang pengendara mobil, sepeda motor, bergesit-gesitan agar sampai tempat kerja, ya tentu mencari uang !
Bodoh rasanya kalau tidak kerja di kota ini, gaji dengan umr besar semakin saya manfaatkan, bukan hanya 1 tapi 2 tempat kerja yang saya geluti, uang memang bukan segalanya, tapi jika tak punya uang banyak masalah yang muncul, munafik jika bilang tak butuh uang, saya besar karena bertahan hidup dengan uang, bahkan pergi pun butuh uang.
Selama dua tahun disini, terima kasih telah menambah pengalaman, terima kasih untuk diri yang sanggup survive sampai saat ini.
Semangat masih setengah perjalanan :v
BalasHapusMakasih kak
BalasHapus