Cita-cita


CEMO’OH PENGUAT CITA-CITA

ivani ayu marlina 



Kalianda, 4 juni 2020

Di bawah paparan kipas angin yang tidak terlalu menohok badan ini, saya sedang bernostalgia dengan kehidupan masa lalu yang begitu manis hahaha kalau di ingat-ingat masa lalu memang sangat menyenangkan bukan? Saya sedang bicara tentang kehidupan seharian saya. 
Dimana setiap sudut rumah adalah kenangan.
Setiap sudut di kampung adalah kenangan.
Setiap aroma masakan mamak adalah kenangan.
Setiap buku-buku  komik adalah kenangan.
Setiap lagu - lagu exo adalah kenangan.
Setiap jalan setapak adalah kenangan.
katanya kalau kita pernah mendengar lagu yang di putar di masa lalu, kemudian kita mendengarkannya lagi di masa depan maka, akan muncul kenangan yang mengiringi lagu tersebut.
Semua orang pasti punya kenangan masing-masing, baik itu kenangan suka cita ataupun duka cita, mengingat kenangan sudah sewajarnya, manusia namanya ! tapi lebih baik cukup di kenang saja!

Saya ingin berbagi kenangan sewaktu kecil tentang bagaimana cita-cita saya terbentuk
Kelas 1 SD cita-cita saya adalah menjadi seorang chef, karena memang saya suka masak waktu SD, bukan menggunakan gas elpiji atau listrik tentu dengan tungku alami yang terbuat dari tanah liat , itu alm ayah saya yang buat,
Kelas 2 SD cita-cita saya adalah menjadi pebulu tangkis, taufik hidayat idol saya sewaktu itu
Kelas 4 SD saya tidak ingin jadi apa-apa! tau kenapa ? malas alasannya
Kelas 6 SD sampai lulus SMA  saya ingin menjadi reporter, drama pinnochio alasannya
Ketika kuliah saya kembali ingin menjadi chef. tidak ada alasan yang signifikan, sewajarnya perempuan harus bisa masak.

Bicara tentang cita-cita ada sebuah novel karya ahmad fuadi yag begitu saya sukai “NEGERI 5 MENARA” novel ini menceritakan agar kita bersungguh-sungguh dalam menggapai cita-cita, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini selama kamu terus berdoa dan berusaha. serta jangan takut untuk bermimpi setinggi-tinggi nya ALLAH adalah maha pendengar

Sedikit cerita dari novel ini :
Alif Fikri yang berasal dari Bayur, kampung kecil di dekat Danau Maninjau Padang, Sumatera Barat, adalah seorang anak yang memiliki cita-cita untuk bisa menjadi seperti B. J. Habibie. Ia dan sahabatnya, Randai memiliki mimpi yang sama untuk bisa masuk ke SMA lalu melanjutkan studi di ITB. Namun, beberapa hari setelah kelulusan SMP amaknya mengungkapkan bahwa ia tidak setuju kalau anaknya masuk SMA, hal itu membuat membuat mimpi Alif untuk menjadi insinyur dan ahli ekonomi kandas.
Suatu sore, Alif menerima surat dari pamannya yang sedang belajar di Mesir. Pamannya itu menyarankan agar ia melanjutkan sekolah di sebuah pondok yang ada di Jawa Timur, Pondok Madani. Dengan berat hati ia memilih mengikuti saran dari pamannya.

Sebuah kalimat bahasa Arab yang didengar Alif dihari pertama di PM (pondok madani) mampu mengubah hidup alif. "mantera" sakti yang diberikan kiai Rais “man jadda wajada”, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Karena itu Alif pun mulai menjalani hari-hari dipondok dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh.
Di PM Alif berteman dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa, Sulawesi. Sahibul Menara, ya itulah sebuah sebutan penghuni PM terhadap Alif dan 5 temannya itu yang selalu berkumpul di bawah menara tertinggi di Pondok Madani sambil menatap awan merangkai cita-cita mereka kedepan.

Ternyata kehidupan di PM sangatlah tidak mudah. Banyak hal baru yang harus dijalaninya, seperti setiap hari Alif mempunyai kegiatan hapalan Al-Qur'an, belajar siang-malam, harus berbicara bahasa Arab dan Inggris selama di PM. Belum lagi peraturan ketat yang diterapkan PM pada murid yang apabila melakukan sedikit saja kesalahan dan tidak taat peraturan yang berakhir pada hukuman yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya.
Tetapi, berkat banyaknya pengalaman yang dijadikan motivasi oleh Alif, ia dan teman-temannya berhasil menyelesaikan perguruannya di PM. Setelah lulus dari PM, semua mimpi mereka berenam yang dulu mereka rancang di bawah menara telah menjadi nyata. Setelah mereka mengerahkan segala ikhtiar dan menggenapkan dengan doa, Tuhan mengirim benua impian ke pelukan masing-masing. Mereka berenam telah  berada di lima Negara yang berbeda. Alif merantau ke Amerika, Raja merantau ke Eropa,  sementara Atang di Afrika, Baso berada di Asia, sedangkan Said dan Dulmajid sangat nasionalis mereka tetap berada di Negara kesatuan Republik Indonesia tercinta.
( dikutip dari kompasiana blogging : tito aprildama) 

Kita mungkin sering menceritakan betapa menggebu-gebunya diri untuk menggapai cita-cita kepada orang lain, tapi responnya jelek terhadap cita-cita kita seperti “ alah kamu mah nggak mungkin jadi chef masakan jepang, masakan kamu itu nggak enak, mana mau orang makannya “ ! atau mungkin ada yang berbicara seperti ini “ uang dari mana? Kamu kira jadi chef atau reporter itu mudah dan murah ! Udah lah jangan bermimpi tinggi-tinggi”! 
jadi gini temen- temen mungkin hari ini cita-cita kita sedang jauh dengan kita siapa  tahu ALLAH SWT berkata lain dan kita bisa  menjadi yang kita inginkan. 

Jujur saya juga sering di cemo’oh oleh saudara dan temen-teman , karena cita-cita saya. Kuncinya tetap berpegang teguh lah pada cita-cita mu, berdoa, dan jangan lupa berusaha agar cita-cita itu bisa terwujud,karena doa saja tidak cukup, butuh pengorbanan untuk menggapainya.
hari ini mungkin belum bisa mendapatkannya, besok ketika sudah mendapatkannya kita traktir masakan jepang yang enak untuk mereka, bagi teman-teman yang mungkin sedang membaca tulisan jelak saya ini tetap berpegang teguh lah pada jalan mimpimu masing-masing , saya tunggu traktiran kalian ketika sudah sukses nanti.

Komentar